Kamis, 08 April 2010
MAKNA AS SYAHADATAIN
Kalimat syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat islam.Kita selalu menyebutnya setiap hari, misalnya ketika sholat dan adzan.Banyak dari kita menghafal kalimah syahadat dan dapat menyebutnya dengan fasih.Namun sejauh manakah makna kalimat syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?
Maasalah tersebut perlu dijawab dengan realitas yang ada.Tingkah laku umat islam yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup barat yang memberi gambaran bahwa syahadat tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara -perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat kepada Islam, dan mengingkari rezeki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada dirinya.Contot ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadat yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadat tersebut.
Kalimat syahadat merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam.Tanpa syahadat maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitupun dengan rukun Iman.Tegaknya syahaday dalam kehidupan seorang individu akan mengukuhkan ibadah dan dien dalam hidup kita.Dengan syahadat maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.
Menegakkan Islam mesti didahului menegakkan rukun Islam terlebih dahulu, dan untuk tegaknya rukun Islam mesti didahului tegaknya syahadat terlebih dahulu.Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa, Islam itu bagaikan sebuah bangunan.Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok yaitu syahadatain, shaolat, shaum, zakat dan haji ke baitul haram.Dalam hadits yang lain : Shalat adalah tiang ad dien.
Bagi masyarakat Arab di zaman Nabi SAW, mereka memahami betul makna syahadatain ini, terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi SAW mengumpulkan pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi SAW bersabda : Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab.Kemudian Abu Jahal terus menjawab : Janganlah satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.Kemudian Nabi SAW bersabda : Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah.Abu Jahal pun terus menjawab : kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.
Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini, justru karena faham makna dan konsekuensi dari kalimat tersebut.Dia tidak mau menerima sikap tunduk, taat dan patuh kepada Allah Swt saja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya.Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya.Penerima shahadat bermakna menerima semua aturan dan semua akibatnya.Penerima inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasi syahadat.
Sebenarnya bila mereka faham, loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan kepada diri kita.Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai.Mereka yang mrempunyai kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim.Abu Jahal adalah tokoh di kalangan jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi di antaranya ialah ahli hukum (Abu Amr).Setiap individu yang bersyahadat, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.
Kalimat syahadat mesti difahmi dengan benar, karena di dalamnya terdapat makna yang sangat tinggi.Dengan syahadat maka kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia maupun di akhirat.Syahadat sebagai kunci kehidupan dan tiang dari pada dien.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar